NASKAH DRAMA
PELUKIS DAN WANITA
Adhy Pratama Irianto
PERHATIAN!
Bila Anda akan
mementaskan naskah ini mohon untuk menghubungi penulis naskah untuk
sekedar pemberitahuan.
Penulis: Adhy Pratama
Email: adhypratama_ibra@yahoo.com
Sinopsis :
Hidup adalah menunggu. Menunggu untuk tumbuh, menunggu untuk besar,
menunggu untuk kaya, dan menunggu untuk mati. Hidup bagi sebagian orang, hidup hanya
terisi dengan ngungkung di kantornya,
ngalor-ngidul dijalanan, dan melototin layar monitornya, terus
pulang, terus tidur, terus bangun lagi terus ngungkung lagi. Terlalu panjang penantian yang dirasakan bagi
manusia untuk hidup, dan tak jarang yang bosan dengan monogamy dan hitam putih
hidup itu. Naskah pelukis dan wanita hanya mengganti keadaan hidup yang
menunggu, entah menunggu apa, menjadi seorang wanita yang menunggu pelukis
untuk melukis dirinya. Sekian lama menunggu, yang didapatnya hanya kebosanan.
Hingga ia lebih memilih untuk berhenti menunggu walaupun sebenarnya kalau ia
masih punya sisa kesabaran sedikit lagi, wajahnya yang cantik akan terlukis di
canvas yang ia bawa sendiri.
Adegan
Setting :
Dua buah karung kain hitam
putih diletakkan di tengah-tengah panggung. Didalam tiap karung terletak
seorang laki-laki. Agak jauh sedikit di dekat wing kanan depan panggung ada sebuah meja yang ditutup kain biru
dan diatasnya duduk seorang wanita yang termenung. Di sudut wing kiri depan ada sebuah canvas
lukisan tergantung.
Wanita
Sudah lama kunantikan
kedatangan kalian, kemana kalian! Kalian tidak mengerti betapa sakitnya
menunggu, kalian tidak pahamkah berapa lama waktu kuterbuang sia-sia hanya
karena menunggu kalian yang tak juga menampakkan sedikitpun batang hidung
kalian dihadapanku.
(pause)
(melihat jam ditangan)
bagaimana ini, matahari sudah tergelincir, kalian tak juga datang.
Pria 1
(Keluar dari karung
perlahan-lahan memegang cat dan kuas, mimic wajahnya menunjukkan kalau ia adalah
seorang yang bodoh) sudah lama menungguku, tuan putri?
Wanita
Iya, bahkan sudah hampir
puas aku menunggu. Bahkan sudah hampir bosan. Dan bahkan sudah hampir gila aku
menunggu kalian.
Pria 1
(terkejut) minta maaf
putri (dengan nada yang diayun-ayunkan). Kan, belum terlalu lama putri
menungguku.
Wanita
Belum terlalu lama !?,
yang lama itu seperti apa menurutmu? Setahun, sewindu, satu decade atau satu
abad!! Lihat! aku sudah duduk disini terlalu lama, bahkan canvas (menunjuk ke kanvas
yang tergantung, diikuti dengan pandangan mata pria 1) yang kalian suruh aku
bawakan sudah lapuk
Pria 1
(tertunduk) maaf tuan
putri, tapi…
Wanita
Tapi apa? Lihat dandananku
sudah mulai kacau, riasanku sudah mulai luntur.
Pria 1
Tapi aku hanya assistant,
aku tak bisa melukis.
Wanita
Oh, begitu. Jadi mana
temanmu atau bosmu itu?
Pria 1
Aku akan mencarinya, tuan putri
duduk kembali manis-manis diatas situ, dan tunggu aku.
(Pria 1 out)
Wanita
Oh, berapa lama lagi aku
harus menunggu! Sialan! Bodoh!(memaki kepada diri sendiri)
Pria 2
(keluar dari karung dengan
raut muka sok, dan tak merasa bersalah)Sudah lama menunggu tuan putri (keluar
dengan gaya flamboyant mendekati putri)
(pause, sambil menarik nafas panjang)
Bintang gemerlap, bulan
menangis perih (menghadap kedepan) sudah siap dilukis tuan putri?(dengan cepat
langsung duduk dihadapan Wanita)
Wanita
Sudah dari 600 menit yang
lalu.
Pria 2
600 menit, berarti 10 jam,
waw ! tuan putri rela menunggu 10 jam untuk kedatanganku, aku terharu.
Wanita
Jangan banyak bicara,
dandananku sudah kacau, riasanku sudah luntur, tubuhku telah letih. Kalau kau
membutuhkan kanvas, itu (menunjuk ke kanvas, diikuti dengan pandangan mata pria
2).
Pria 2
Baik, silahkan masuk pada
pose yang telah kita sepakati kemarin.
Wanita
(tanpa bicara, dengan wajah
yang menahan kesal berpose dengan posisi hampir tidur menghadap depan, dua kaki
terlipat keatas sampai menyentuh panggul dan sikut tangan menopang tubuh agar
tetap tegak.)
Pria 2
Tunggu, sebentar..
Wanita
(raut muka berubah
bingung, tetapi tetap pada posisi)
Pria 2
Peralatan melukisku ada
asistenku, kita harus menunggu kedatangannya.
Wanita
Ahhhhhhhhhhhhh!!!!!! (
setengah menjerit, merubah posisinya menjadi duduk biasa,dengan muka menahan
kesal, pause)
Dia tadi sudah datang,
jauh sebelum kedatanganmu, karena engkau belum datang, dia mencarimu!
Pria 2
Benarkah? (disambut
anggukan perlahan wanita), kalau begitu, biarkan aku mencarinya (langsung
berlari keluar dengan tergesa-gesa)
Wanita
(memandang dengan kosong
kedepan)
Pria 1 in
Pria 1
Sudah kucari dia
kemana-mana tuan putri, tapi dia tidak juga kelihatan. Dirumahnya, diwarung
kopi tempat dia biasa, bahkan ditepi jembatan tempat dia sering mencari
inspirasi.
Wanita
(turun dari meja, berdiri)
yah jelas kalau kau tidak bertemu dengan dia (moving) dia dari tadi disini!
Pria 1
Apa!? Tidak mungkin,
benar-benar tidak mungkin! Mana dia sekarang (pandangan berkeliling)
Wanita
Dia mencarimu! Bodoh!!
Pria 1
Benarkah!! Kalau begitu
biarkan aku mencarinya (langsung keluar dengan berlari)
Wanita
Tidak usah…lah… le..bih..
ba..ik … kau …menunggu disini (gesture capek, sambil moving kembali ketempat
duduknya)
Pria 2 in
Pria 2
(tertunduk dengan nafas
yang tersengal-sengal matanya beradu pandangan dengan wanita yang memandangnya
dengan heran) maaf putri, dimana aku harus mencarinya, segala tempat yang
sering ia kunjungi aku datangi semua.
Wanita
Tuhan tolong aku, kalian
benar-benar membuat aku gila, asistenmu tadi ada disini, dia juga mencarimu.
Akhhhhhh..(memegang kepalanya)
Pria 2
Benarkah,, (langsung
berlari keluar)
Wanita
Ouwhhh… baiklah, aku
trauma, aku sudah hampir gila. Aku tidak akan mau dilukis lagi. Aku tidak mau
lagi. (wanita mengamuk menendang kanvas dan mendorong mejanya sampai jatuh,
kemudian dengan nafas yang naik turun dan mata yang melotot ia out)
Pria 1 dan pria 2 in.
Pria 2
(Berjalan mundur, menatap
pria 1) Ah, kau selalu begitu, kalau dia marah bagaimana?
Pria 1
(terbengong dari tadi
melihat keadaan sudah kacau balau) sepertinya dia sudah marah (tetap melihat ke
panggung yang kacau)
Pria 2
(tetap menatap ke pria 1)
kalau dia marah saja, masih bisa kita atasi, bagaimana kalau dia mengamuk?
Pria 1
Sepertinya dia sudah
mengamuk.
Pria 2
Okelah, kalau mengamuk
masih bisa kita tangani, kalau dia pergi bagaimana?
Pria 1
Sepertinya dia telah
pergi.
Pria 2
(agak heran dengan arah
mata pria 1 dan berbalik badan melihat kea rah pandangan pria 1) oh, Tuhan (memegang
kedua kepalanya).
Selesai.
.jpg)


.gif)

.gif)
.jpg)
Assalamualaikum
BalasHapusIjin kalau di perbolehkan untuk memainkan naskah ini..?
Dari UKM TEROMPET "TN" devisi teater bima ntb
Assalamu'alaikum, izin bertanya apakah ada naskah full nya dan apakah bisa di download juga?
BalasHapus