Monolog
SIDANG
JEMBATAN
Adhy Pratama
Teater
Senyawa
PERHATIAN!
Bila Anda akan
mementaskan naskah ini mohon untuk menghubungi penulis naskah untuk
sekedar pemberitahuan.
Penulis: Adhy Pratama
Email: adhypratama_ibra@yahoo.com
Setting
: Musik bertaluan dari belakang layar, sementara layar masih tertutup. Dari
tempat penonton hingga depan panggung terbentang sebuah jembatan menyentuh lantai,
namun ada pegangan tangan dikiri dan kanan. Seorang lelaki, mencerminkan
kemiskinan berjalan ditengah-tengah penonton meniti jembatan. Ruangan
benar-benar gelap, cahaya hanya dibelakang layar. Lelaki ini membawa lampion
terang kemerahan. Berjalan dengan pelan dan hati-hati, tempo berjalan lambat
namun tempo berbicara sedang.
Lelaki
(L) : Aku rindu, aku benar-benar merindukan (pause, berhenti, memandang
sekeliling) saat suara rakyat adalah suara Tuhan, saat suara rakyat mengalun
dengan lantang. (menghadap kekanan, lampion seperti menerangi bawah jembatan)
rakyat adalah otak, bukan kelingking, yang seandainya ada amputasi, (pause)
orang gila pun lebih memotong kelingking daripada mengorbankan otaknya. (melanjutkan
berjalan dengan hati-hati, sesekali memegangi tali jembatan)
L
: Melihat jembatan ini, menitinya dengan hati-hati, teringat pada Almarhum Pak
Jumadi. Dia kepala desa kami yang telah meninggal 3 tahun yang lalu,(pause)
kepala desa terbaik sedunia, kepala desa terbaik di akhirat. Saat itulah, pemimpin
benar-benar menjadi wakil rakyat, mewakili suara rakyat, dia juaranya. (pause)
aku teringat ketika dia dilantik, 40 tahun yang lalu, ia berkata (menirukan
suara dan gesture Jumadi) aku punya dua buah toko didesa ini, aku juga punya
lahan kelapa sawit yang luas, untuk itu, seluruh gajiku serta tunjangannya
sebagai kepala desa, aku hibahkan ke kas desa, agar desa kita semakin maju dan
jaya, melebihi desa-desa lain yang ada disekitar (pause) aku bersorak (pause)
tidak hanya aku, tapi seluruh warga desa bersorak. Semenjak saat itu, Jumadi
dipastikan menjadi kepala desa seumur hidupnya. Ketika dia meninggal (pause,
terlihat sedih) langit ikut mendung, seluruh warga muram bahkan anak kecil yang
belum mengerti apa-apa, ikut terisak. Kami kehilangan, kami kehilangan ksatria,
kami kehilangan (pause) raja kecil yang arif bijaksana (melanjutkan berjalan)
L
: Setahun sebelum dia meninggal, jembatan ini putus. Dalam kondisi tubuh yang
lemah dan sakit-sakitan, ia pimpin rapat. Seperti sidang DPR yang terhormat,
kami dianggapnya anggota dewan, (pause) takkan satu perkara pun dia putuskan,
bila tidak ada pendapat dari kami. Kami warga yang bodoh, member pendapat
berdasarkan hati dan perut kami. Sama sekali tidak difikirkan, (tertawa kecil)
tapi dia rela mendengarkan, (pause) aku dengar, warga pelan-pelan berdoa untuk
kesembuhannya, bahkan ada pula doa yang berbisik “biarkan Jumadi hidup
selamanya ya Tuhan” (pause, melanjutkan berjalan,hingga sampai kepanggung)
L
: Sidang terakhir dihidupnya, takkan pernah terlupa olehku (layar perlahan
terbuka, cahaya panggung terang benderang, setting panggung; sebuah meja
bertuliskan Kepala Desa, beberapa kursi dan minuman untuk peserta rapat) Sidang
ini, kenangan terakhir warga bersama kades sepanjang masa

(L
keluar dari panggung, kembali dengan menggunakan baju batik dan peci duduk di
meja depan)
L
: Assalamualaikum, para warga peserta rapat yang budiman, yang rela
menyempatkan diri untuk hadir dalam rapat desa ini. Selamat pagi pula untuk
yang berbeda keyakinan, seperti semboyan Indonesia, meski kita berbeda, tidak
ada yang bisa menghalangi kita untuk bekerja sama membangun desa ini. (pause,
menarik nafas panjang) yang ingin saya ungkapkan pada kalian ialah, perlunya
perbaikan atas jembatan penghubung desa kita ke desa sebelah. Karena didesa
sebelah itu ada SMP, jadi warga kita kesulitan untuk pergi kesekolah selama
tidak ada perbaikan terhadap jembatan itu. Saya ingin mendengar, saran dan
masukan dari bapak-bapak, ibu-ibu sekalian, bagaimana seharusnya kita lakukan
terhadap jembatan putus itu?
L
: (pindah keposisi peserta rapat, melepas pecinya dan mengikat sarung diperut)
Saya, Pak Kades mau kasih saran saya begitu. Jadi begini pak kades begitu. Kan,
dibelakang rumah saya yah pak kades, begitu, ada banyak pohon bambu begitu.
Kita sudah semestinya itu pak kades begitu, perbaiki jembatan begitu. Kalau
butuh banyak batang bamboo, bisa ambil dibelakang rumah saya beitu. Tapi jangan
banyak-banyak pak kades begitu, lima batang saja begitu, saya rugi nanti
begitu. Kalau mau lebih tidak apa-apa, begitu, tapi (agak malu-malu) bayar
begitu.
L
: (pindah tempat duduk) Huh! Payah tuh pak Kades, bah! Dia mau nolong (o
ditekan) tapi pelitnya minta ampun pak kades.
L
: (pindah ketempat posisi kades semula, seraya mengembalikan sarung ke atas
pundak dan menggunakan peci) begini mas ucok, sama mas Azis, bagus juga idenya
perbaiki jembatan itu pakai bamboo, walaupun Cuma lima batang saja yang gratis
tapi sisanya bayar, saya kira duit kas desa (pause, memegang dada) cukup untuk
membuatnya.
L
: (pindah ketempat duduk, lepaskan peci dan sarung) maaf menyela, pak kades.
Sebagai pemuda, saya berharap rehabilitasi jembatan ini lebih berupa
peningkatan. Tentu, agar mobilisasi penduduk desa menjadi lebih efektif dan
efisien, Pak Kades. Tentu, jembatan ini perlu kita buat berbahan rabat beton,
dengan memasukkan proposal kepada pihak kecamatan atau kabupaten … (terpotong)
L
: (pindah tempat duduk, sarung dipakai diatas kepala, peci digunakan sebagai
kipas) gen padeak! Mobisasi-mobisasi, rebatisasi-rebatisasi, pektip-pesien, apa
itu? Mentang-mentang kamu S2, kita didesa dek-dek, oi. Proposal-proposal jano
tuh? Aku tidak setuju sama proposal-proposal tuh pak kades, lebih baik jelek
tapi kita buat sendiri, dari pada tak tau jelek atau bagus minta sama orang,
pakai proposal-proposal tuh.
L
: (kembali ketempat kades) tidak boleh mengecilkan pendapat orang lain, tapi
tidak pulo dibolehkan ego sendiri dikedepankan. Sebenarnya, maaf nih dek Pendi,
saya juga tidak terlalu tertarik sama proposal-proposal itu. Pengemis elit,
kalau menurut saya.
L
: (kembali keposisi pemuda) tapi pak kades, urusan membangun jembatan memang
tugas mereka, bagaimana mereka bisa berleha-leha sedangkan jembatan kita putus!
Saya sudah banyak mempelajari tentang ilmu administrasi Negara, kita punya hak
pak Kades, kita meminta hak kita! Kita menuntut hal yang memang seharusnya kita
miliki!
L
: (kembali ketempat ibu-ibu) oi dek-dek, ndak kamu belajar terasi Negara, gen,
ndak tauco Negara gen, memangnya tuh jembatan bisa mulai dibuat besok! Kita
harus menunggu sampai berapa lama!
L
: (kembali ketempat kades) Saya kira ada yang bisa mengambil jalan tengahnya?
L
: (kembali ketempat penonton, sarung dipakai seperti biasa, peci tetap
digunakan) Assalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh (pause, menarik nafas
panjang) seluruh warga desa yang budiman, saya hanya ingin menengahi saja. Ini
ide saya bukan menjatuhkan keseluruhan pihak, saya benar-benar minta maaf,
menurut saya pak kades dan seluruh warga desa yang budiman (pause) kita tetap
masukkan proposal pembangunan ke kecamatan atau kabupaten, namun sambil
menunggu pembangunan tersebut bisa berjalan sesuai yang diharapkan, kita bangun
dulu jembatan semi-permanen manggunakan bamboo dari belakang rumah Azis,
(pause) dan bekerja sama seluruh warga untuk membangun jembatan itu secepatnya.
L
: (kembali ketempat kades) setuju, sekali, saya juga yakin semua warga setuju.
Karena dengan saran terakhir itu, seluruh saran kalian diterima dan digabungkan
menjadi satu. Kita mulai bekerja besok! Bagaimana, siap! (disambut sahutan “siap”
dibelakang)
L
: (kembali kedepan panggung, mengambil lampion, lampu dalam panggung kembali
redup) saya masih cukup ingat sidang itu (pause, berjalan kembali meniti
jembatan), esoknya, jembatan ini mulai dibangun dengan semangat kebrsamaan
warga, walau sederhana, namun bisa membuat anak-anak desa bisa bersekolah.
Hebat, jembatan yang hebat (pause,berjalan balik dijembatan, kembali
kepanggung)
L
(terhenti, ketika didepan panggung) sampai saat ini, setelah tiga tahun berlalu
sidang itu, jembatan kami tidak pernah berubah, tetap sederhana. Dari bambu,
yang gratis hanya 5 batang. Tentang proposal, (pause) saya ingat saya ikut
mengantarkannya ke Kantor Kecamatan, kemudian bersama-sama ke Dinas PU. Tapi,
kelanjutannya, (tertawa) saya tidak tahu dan tidak mau tahu (masuk kebalik
layar)
Selesai
.jpg)

.gif)

.gif)
.jpg)
0 komentar:
Posting Komentar