bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Jumat, 06 Januari 2017

Gudang naskah "AENG" Putu Wijaya

AENG

karya:Putu Wijaya



IA BERBARING DI LANTAI DENGAN KAKI NAIK KE KURSI. DI MEJA KECIL,

DEKAT KURSI, ADA BOTOL BIR KOSONG SEDANG DI LANTAI ADA PIRING

SENG. MUKANYA DITANGKUP TOPI KAIN. DI KAMAR SEBELAH

TERDENGAR SESEORANG MEMUKUL DINDING BERKALI-KALI

Ya, siapa itu. Jangan ganggu, aku sedang tidur

GEDORAN KEMBALI BERTUBI

Yaaaa! Siapaaa? Jangan ganggu aku sedang tidur

GEDORAN BERTAMBAH KERAS. ORANG ITU MENGANGKAT TUBUHNYA

Ya! Diam kamu kerbau! Sudah aku bilang, aku tidur. Masak aku tidak boleh tidur

sebentar. Kapan lagi aku bisa tidur kalau tidak sekarang. Nah begitu. Diam-diam sajalah

dulu. Tenangkan saja dulu kepalamu yang kacau itu. Hormati sedikit kemauan tetangga

kamu ini

(BERBARING LAGI) Ya diam. Tenang seperti ini. Biar aku dengar hari bergeser

mendekatiku dengan segala kebuasannya. Tiap detik sekarang kita berhitung. Aku kecap

detak-detak waktu kenyang-kenyang, karena siapapun tak ada lagi yang bisa menahannya

untukku. Bahkan Tuhan juga sudah menampikku. Sebentar lagi mereka akan datang dan

menuntunku ke lapangan tembak. Mataku akan dibalut kain hitam dan sesudah itu

seluruh hidupku jadi hitam. Aku akan terkulai di situ berlumuran darah. Jadi onggokan

daging bekas. Sementara dunia terus berjalan dan kehidupan melenggang seperti tak

kekurangan apa-apa tanpa aku. Sekarang kesempatanku yang terakhir untuk menunjuk

arti. Mengisi kembali puluhan tahun di belakang yang sudah aku lompati dengan terlalu

cepat. Apa yang bisa dilakukan dalam waktu pendek tetapi dahsyat? (MENGANGKAT

TOPI DAN MELEMPARKANNYA KE ATAS) Ketika aku mulai melihat, yang pertama

sekali aku lihat adalah kejahatan. Makku dihajar habis oleh suaminya yang kesetanan.

Ketika pertama kali mendengar, yang kudengar adalah keserakahan. Para tetangga

beramai-ramai memfitnah kami supaya terkubur. Ketika pertama kali berbuat yang aku

lakukan adalah dosa. Kudorong anak itu ke tengah jalan dan sepedanya aku larikan. Sejak

itu mereka namakan aku bajingan. Mula-mula aku marah, karena nama itu diciptakan

untuk membuangku. Tetapi kemudian ketika aku terbiasa memakainya, banyak orang

mengaguminya.Mereka datang kepadaku hendak berguru. Aku dinobatkan jadi pahlawan.

Sementara aku merasa amat kesepian ditinggal oleh dunia yang tak mau mengakuiku

sebagai anaknya.


SEEKOR KECOAK BERGERAK DI ATAS PIRING.

Hee bandit kecil kau masih di situ? Kau mau mengucapkan selamat jalan kepadaku, atau

hanya mau merampok ransumku seperti biasa? Kau tahu artinya dibuang? Kau bisa
membayangkan bahwa sejumlah orang di sana merasa berhak menghapus seluruh dunia

ini dari mata seorang manusia. Tidak, kau tidak tahu. Kamu hanya bisa makan dan berak.

Berpikir bukan tugas kamu. (MENANGKAP) Sekarang kamu harus menjawab.

Bagaimana rasanya terkurung disitu? Bagaimana rasanya diputus dari segalanya? Ketika

ruang kamu dibatasi dan tak ada yang lain di sekitar kamu kecuali gelap, kamu akan

mulai meronta. Kamu ingin diperhitungkan! Kenapa cuma orang lain yang dimanjakan!

Dengar sobat kecil. Bagaimana kamu mampu meronta kalau kamu tahu akan sia-sia?

Mereka dahului nasib kita, mereka lampaui rencana kita. Dia yang sekarang berdiri tuh

jauh di sana dengan kaki menjuntai sampai mengusap kepalamu karena kasihan. Ya tapi

cuma kasihan, tidak ada pembelaan, tidak ada tindakan apa-apa yang kongkrit. Mereka

sudah begitu berkuasa!

(TIBA-TIBA BERTERIAK DAN MELEPASKAN) Gila. Kamu melawan? (KETAWA)

Kamu menghasutku untuk melakukan melawan? (KETAWA) Tidak bisa.. Manusia bisa

kamu lawan. Tapi dinding beku ini tidak. Mereka bukan manusia lagi. Itu sistem yang tak

mengenal rasa. Tak ada gunanya kawan, tidak. (MEMBURU DAN MENGINJAK

KECOAK ITU) kamu tidak berdaya. Kamu sudah habis (TERTEGUN)

MENOLEH KE TOPINYA TIBA-TIBA TERSENYUM RIANG) He, kamu ada di situ

Nensi! Rupanya kamu yang dari tadi melotot di situ. Apa kabar? Sedang apa kamu

sekarang? Kenapa lipstik kamu belepotan? Ada hansip yang memperkosa kamu? Jangan

diam saja seperti orang bego sayang. Ke mari. Masih ingat pada aku kan?

MENUNDUKKAN BADANNYA, KEDUA TANGANNYA DI DEKAT TOPI ITU)

Aku bukan orang yang dulu lagi. Kau pun tidak. Ketiak kita sudah ubanan. Tetapi kita

pernah bersama-sama membuat sejarah dan itu tidak bisa hapuskan begitu saja. Sekeping

dari diri kamu masih tetap dalam tubuhku dan bagian dari punyaku masih tersimpan pada

kamu. Kita bisa berbohong tapi itu tidak menolong. MENYAMBAR TOPI) Mari sayang.

Temani aku hari ini menghitung dosa. Berapa kali kamu aku tonjok, berapa kali aku elus,

berapa kali aku sumpahi. Tetapi jangan lupa berapa kali aku berikan bahagia. Waktu

kusedot bibirmu sampai bengkak. Waktu kita berjoget (BERJOGET) diatas rel kereta.

Waktu kubawa kamu naik ke puncak Monas, waktu kita nonton wayang di bawah

jembatan. Tapi kenapa kemudian kau lari dengan bajingan itu. Sundal!! Lonthe!

(BERHENTI BERDANSA) Aku masih ingat ketika menyambar parang dan menguber

kamu di atas jembatan. Lalu kutebas lehermu yang panjang itu. Tidak , aku tidak

menyesal. Aku tahu janin dalam perutmu juga ikut mampus. Tapi itu lebih baik. Biar

kamu hanya menjadi milikku. Kamu mengerti (MENANGIS) Kamu tak pernah mengerti.

Kamu tak pernah mencintaiku. Bahkan kematian tak menyebabkan kamu mengubah

sikap bencimu. Kamu menang Nensi. Kamu mati tapi kamu menang. Sialan. Kok bisa.

(MELIHAT MATAHARI NAIK KE JENDELA) He matahari kamu jangan ngece! Kamu

jangan sombong. Kamu tak perlu tertawa melihat bajingan menangis. Apa salahnya? Air

mata itu bukan tanda kelemahan tapi kehalusan jiwa. Kurang ajar terkekeh-kekeh ya!

Kau tidak bisa naik melewati kepalaku. Bukan kau yang paling tinggi di sini. Aku tetap

lebih tinggi dari kamu. Kamu tidak akan bisa melampauiku hari ini. (MENGAMBIL

KURSI DAN MELOMPAT KE ATAS MEJA LALU NAIK KE ATAS KURSI) Naiklah

lebih tinggi lagi. Aku akan membumbung dan tetap yang paling tinggi selama-lamanya.

Sampai aku sendiri turun dan menyerahkan tempat ini kepadamu. Besok aku akan

mengembara mencari duniaku yang hilang. Tanpa teman, tanpa saudara, mencari

sendirian sepanjang malam. Aku putari dunia, aku masuki lautan, aku reguk segala

kesulitan, tapi pasti tak akan aku temukan apa-apa. (MEMIKUL KURSI) Keatas

pundakku berjatuhan segala beban.Semua orang melemparkan kutukan. Mereka bilang

akulah biang keladi semuanya. Kalau ada anak yang mati, akulah yang membunuhnya.

Kalau ada kebakaran, akulah pelakunya. Kalau ada perkosaan, akulah jahanamnya. Kalau

ada pemberontakan, akulah biangnya. Tidak! Itu bohong! Harus dihentikan sekarang.

(MELOMPAT TURUN DENGAN KURSI DI PUNDAKNYA, BERJALAN

MENGELILINGI RUANGAN) Di dalam ruangan ini aku menjadi manusia. Di dalam

ruangan ini aku lahir kembali. Mataku terbuka dan melihat cinta di balik jendela. Melihat

keindahan cahaya matahari dan bulan yang romantis malam hari. Aku ingin kembali

mengulang sekali lagi apa yang sudah kujalani. Menjadi manusia biasa seperti kalian.

Tapi Tuhan datang padaku tadi malam dan berbisik. Jangan Alimin. Jangan melangkah

surut. Tetap jadi contoh yang jelas, supaya jangan kabur. Penjahat harus tetap jadi

penjahat, supaya kejahatan jelas tidak kabur dengan kebaikan.Dunia sedang galau batas-
batas sudah tak jelas. Tolonglah Aku, katanya. Kini diperlukan seorang penegas. Dan aku

terpilih. Aku harus tetap di sini menegakkan kejahatan!

(MELETAKKAN KURSI) Aku bukan lagi anak kamu ibu. Aku telah dipilih mewakili

zaman. Menjadi contoh bromocorah. Kau harus bersukur ini kehormatan besar. Tak ada

orang berani menjadi penjahat, walaupun mereka melakukan kejahatan. Aku bukan

penjahat biasa. Aku ini lambang. Kejahatan ini kulakukan demi menegakkan harmoni.

Jadi sebenarnya aku bukan penjahat, tapi pahlawan yang pura-pura jahat. Aku tak peduli

disebut bromocorah karena aku sadar itu tidak benar. Aku lakukan semuanya ini untuk

negeri ini, meskipun tidak masuk ke dalam buku sejarah, karena tidak ada seorang

penulis sejarah yang gila melihat kebenaran ini.

(BERGERAK KE DEPAN MEJA) Yang Mulia Hakim yang saya hormati. Saya tak akan

membela apa yang sudah saya lakukan. Saya justru ingin menjelaskannya. Bahwa

memang benar saya yang melakukan segalanya itu. Hukumlah saya. Dua kali dari

ancaman yang telah paduka sediakan. Wanita itu saya cabik lehernya, karena saya rasa

itu yang paling tepat untuk dia. Kemudian harta bendanya saya rampas, karena kalau

tidak dimanfaatkan akan mubazir. Saya lakukan itu dalam keadaan yang tenang. Pikiran

saya waras. Tapi mengapa? Saya tak bisa menjawab, karena bukan itu persoalannya.

Saya justru ingin menanyakan kepada Bapak dan kepada seluruh hadirin di sini. Mengapa

seorang wanita yang tercabik lehernya mendapat perhatian yang begitu besar, sementara

leher saya dan jutaan orang lain yang dicabik-cabik tak pernah diperhatikan. Apa arti

kematian seorang pelacur ini dibandingkan dengan kematian kita semua beramai-ramai

tanpa kita sadari? Di depan anda semua ini saya menuntut. Berikanlah saya hukuman

yang pantas. Tetapi jangan lupa berikan juga hukuman kepada orang yang telah

mencabik leher kami itu dengan setengah pantas saja. Karena saya cabik leher wanita itu

harapan Anda semua akan teringat bahwa leher kamipun sudah dicabik-cabik dengan

cara yang sama. Dan semoga ingatan itu diikuti pula pada hukuman yang bersangkutan.

Kalau sudah begitu apapun yang dijatuhkan kepada saya, dua kali mati sekalipun akan


saya jalani dengan rela. Kalau tidak.(MELIHAT SESEORANG DATANG) O Bapak.

Mari masuk pak. Silahkan, rumah saya sedang berantakan. Ada apa Pak. Tumben.

Kelihatannya terburu-buru. Ada yang tak beres. O... soal yang kemarin. Sudah selesai.

Sudah saya bereskan. Badannya saya potong tiga. Saya geletakkan dua potong dekat tong

sampah. Yang sepotong lagi saya sembunyikan di rawa. Pasti akan ketemu, tapi biar ada

kerepotan sedikit. Pokoknya beres. Bapak bawa untuk saya sisanya. Apa? Masak? Keliru?

Tak mungkin. Tapi anak itu pakai anting-anting di sebelah kiri kan? Kanan? Apa bedanya.

Kan Bapak bilang cuma pakai anting-anting, mungkin hari itu dia pakai di sebelah kiri

supaya orang keliru. Tapi saya tahu itu dia. Hanya dia yang pakai baju seperti itu dan

jalannya oleng sedikit. Belum sempat berpaling saya beri. Apa? Salah? Gila! Jadi itu

siapa? Gila, anak pemain band itu. Ya,ya saya kenal. Bajingan. Dia kan orang baik.

(MELONCAT TURUN) Ya Tuhan, mengapa kamu tipu saya. Kenapa tak kamu bilang

bukan itu orangnya. Keliru sih boleh saja. Tapi jangan anak itu.Bapaknya baik sekali.

Ibunya juga selalu memberi nasehat. (MELIHAT KE DEPAN DENGAN PUTUS ASA)

Saya minta maaf. Bukan saya yang melakukannya, tapi setan. Apa alasan saya

menggangu anak itu, saya justru banyak hutang budi. Dia sering memberi rokok dan

membelikan minuman. Dia sering menegur saya di tempat orang banyak. Saya

dikenalkannya kepada kawan-kawannya sebagai orang baik-baik. Dia teman saya. Tidak,

itu bukan perbuatan saya, tapi orang lain yang memakai tubuh saya. Saya tak ikut

bertanggung jawab. Apa? Ya saya tahu. Kesalahan tak mungkin diperbaiki dengan kata-
kata. Jadi saya harus menebus? Ya sudah, biar lunas. Kalau begitu potong saja tangan

saya ini. (MENYEMBUNYIKAN SATU TANGANNYA DALAM BAJU)

(KEMUDIAN BERJALAN MASUK KE BAWAH MEJA) Aku sudah potong, masak

belum lunas. Wajahnya selalu memburuku. Lalu buat apa aku potong kalau masih

dikuntit. Orang keliru namanya. Masak terus saja diburu. (MENGANGKAT MEJA)

Masak aku yang harus memikul ini sendirian. Mana itu mereka yang menyuruh, ini

semua kan gara-gara mereka. Mengapa sekarang cuma aku yang menanggung buntutnya.

Tangkap dong mereka jangan aku saja. Lama-lama begini aku tidak kuat ini, yang

ditangkap mesti yang dosanya sedikit. Betul. Aku kan punya batas. Hentikan!

(MENGELUARKAN TANGANNYA LAGI) Ya sudah, kalau begitu taj jadi saja.

(MENARUH LAGI MEJA KE LANTAI) Kalau kamu bisa curang, saya juga bisa!

GEDORAN LAGI, ALIMIN TERJUNGKAL IA LALU MERANGKAK KE LUAR

(JADI TUA) Bertahun-tahun aku alihkan makna kemerdekaan kedalam jiwaku. Pada hari

ini aku bebas. Walaupun tubuhku masih dipatok di antara dinding jahanam itu, tapi

jiwaku sudah bebas. Aku tak memerlukan kebebasan tubuh lagi karena jiwaku sudah

merdeka. Tetapi pada saat itu mereka memberikan ampunan. Aku diseret lagi keluar

untuk berlomba mereguk kebebasan jasmani. Aku tak siap. Aku seperti burung yang

terlalu lama dalam sangkar. Aku tak bisa lagi terbang. Aku takut. Dunia ini tak kukenal

lagi. Pada kesempatan pertama kugerogoti barang-barang di warung tetangga. Tetapi tak

ada yang menangkapku. Hansip malahan ikut berbagi dan menunjukkan warung

berikutnya. Dalam kesempatan lain, kuangkat belati ke leher seorang penumpang becak.

Dari kantongnya keluar jutaan rupiah, yang dibalut kertas koran. Aku kira polisi akan

mengejarku . Tetapi ternyata tidak ada yang tahu. Pada kesempatan ketiga kuperkosa


seorang anak di pinggir kali. Dia menjerit-jerit dalam tindihanku, tapi tak ada yang

menolong, hingga akhirnya kulepaskan karena jasmaniku tidak sanggup memperkosa.

Karena putus asa aku gebuk orang di jalan. Mukanya berdarah. Tapi tak seorang juga

yang menangkapku, aku malah diangkat jadi keamanan. Dan banyak orang berbaris jadi

pengikutku. Apa yang harus aku lakukan. Nilai-nilai sudah jungkir-jungkiran. Aku tak

paham lagi dunia ini. Aku jadi orang asing. Aku tak bisa lagi menikmati kemerdekaan.

Bisa-bisa aku edan. Masukkan aku ke dalam penjara lagi, biar jiwaku bebas, di sana

semuanya masih jelas mana hitam mana putih, di dalam kehidupan sekarang yang ada

hanya ada kebingungan

(IA MERAIH BOTOL MINUMAN DAN MENEGAKNYA) Kalau sudah menderita

orang jadi penyair. Kalau sudah kepepet oarang mulai menyanyi. Dan kalau ada yang

hendak dirampok orang berdoa. Sekarang aku menari, karena sudah putus asa. (MENARI)

Badanku ringan. Aku melambung ke angkasa. Dan Tuhan menyapaku dengan ramah.

Bung Alimin hendak kemana kamu? Aku mau ke atas lebih tinggi. Tapi kamu tidak boleh

lebih tinggi dari Syurga. Siapa bilang tidak, kalau aku mau aku bisa. Dan aku melenting

lagi, tapi terlalu tinggi, terlalu jauh (BERHENTI MENARI DAN TEGAK SEPERTI

BIASA, LALU MELONCAT LAGI KE ATAS MEJA) Aku terlontar jauh sekali, tinggi

sekali melewati syurga ke dekat matahari. Tubuhku terbakar. Aku hangus dan hilang

dalam semesta. Aku tidak ada lagi Aku bersatu dengan semesta. Aku menjadi Tuhan.

IA DUDUK DI BIBIR MEJA LALU MEROSOT, TERDUDUK SAMBIL

MEMEGANG BIBIR MEJA MENGIKUTI BADANNYA. LALU IA MEMBUNGKUK

DAN MENGANGKAT MEJA ITU KE ATAS PUNGGUNGNYA. IA ADA DI

BAWAH MEJA.

Atau mungkin hanya hantu. Enak juga jadi hantu. Tidak kelihatan , tapi bisa melihat. Aku

bisa masuk ke kamar mandi mengintip perempuan-perempuan jadi cabul kalau sendirian.

Aku masuk ke dalam kamar tidur para Pemimpin dan melihat ia menjilati kaki istrinya

seperti anjing. Aku masuk kedalam rumah-rumah ibadah dan melihat beberapa Pendeta

main judi sambil menarik kain para pembantu. Tak ada orang yang bersih lagi. Sementara

dogma-dogma makin keras ditiup dan aturan makin banyak dijejerkan untuk membatasi

tingkah laku manusia, peradaban makin kotor. Ah, apa ini? Menjadi hantu hanya melihat

kebrengsekan! Nggak enak ah!

(BERDIRI) Tak enak jadi hantu. Tidak enak jadi Tuhan. Lebih baik jadi batu. Diam,

dingin dan keras. Tidak membutuhkan makan,perasaan dan bebas dari kematian. Aku

mengkristal di sini menjadi saksi bisu bagaimana dunia menjadi tua. Pemimpin-
pemimpin lahir, lalu berkhianat. Peperangan hanya mainan beberapa orang. Manusia

menyusahkan dirinya dengan peradaban, teknologi menjadi buas. Tak satupun

bersangkutan dengan kehadiranku.Tetapi tiba-tiba kulihat seorang anak kecil dikejar

raksasa. Wajah anak itu mirip dengan wajahku waktu masih menyusu. Ia meronta-ronta

minta pertolongan. Tapi tak ada orang lain kecuali aku, sebuah batu. Anak itu menjerit-
jerit pilu. Tolooonggggg! Aku jadi terharu. Akhirnya aku tak bisa diam. Aku meloncat

dan menghantam raksasa itu, mengingkari diriku. Raksasa itu mati. Tapi anak itu juga lari.

Di mana-mana kemudian ia bercerita, bagaimana membunuh raksasa dengan tinjunya.


Dan itulah aku. Kejahatanku yang terbesar adalah jatuh cinta pada diriku sendiri.

TERDENGAR BUNYI LONCENG SATU KALI

Selamat tinggal dinding bisu dengan semua suara yang kau simpan. Selamat tinggal

jendela yang selalu memberiku matahari dan bulan. Selamat tinggal sobat kecil, yang

selalu mencuri ransumku. Selamat tinggal sipir penjara yang marahnya tak habis-habis

pada dunia. Dan selamat tinggal Karpo pembunuh yang tak akan keluar hidup dari

penjara ini. Selamat tinggal segala yang kubenci dan kucintai. Inilah salam dari Alimin

sahabat semua orang, yang sekarang harus pergi. Ingin kuulang semuanya, walaupun

hanya sebentar. Tapi tak bisa. Janjiku sudah lunas. Sekarang aku berjalan dalam kebisuan

yang abadi, untuk membeku bersama masa lalu.

IA PERLAHAN-LAHAN MELAYANG KE ATAS) Sekarang baru jelas, apa yang sudah

aku lakukan, apa yang harus kulakukan, apa yang masih belum kulakukan. Tetapi

semuanya sudah selesai. Dalam segala kekurangannya ini adalah karya yang sempurna.

Aku mengagumi keindahanNya. Aku merasakan kehadiranNya. Aku memasuki

tubuhNya sekarang. Selamat tinggal semuanya.

TERDENGAR BUNYI TEMBAKAN. IA TERSENTAK LALU NAMPAK KAKU,

BEBERAPA SAAT KEMUDIAN IA MELOMPAT.

Terima kasih atas perhatian saudara-saudara. Bertahun-tahun orang ini dihukum sampai

ia tua dalam penjara. Mula-mula ia masih punya harapan akan ada pengadilan berikutnya .

Tetapi ternyata putusan itu sudah final. Kemudian ia mengharapkan akan ada

pengampunan. Tetapi itu juga sia-sia, karena banyak kasus lain yang mengubur nasibnya.

Saudara-saudara kita memang terlalu cepat lupa. Akhirnya ia mencoba menunggu.

Hampir saat ia di bebaskan, tiba-tiba seorang wartawan membuka kembali kasus itu.

Bukti-bukti baru muncul. Dengan tak terduga, ia muncul sebagai orang yang tak bersalah.

Tetapi sebelum pintu penjara dibuka kembali untuk memberinya kebebasan, orang yang

malang itu mati menggantung diri. Bukan karena putus asa. Tetapi sebagai protesnya

mengapa keadilan memakai jam karet!!.

(DUDUK DI KURSI DAN MENJADI TUA) Omong kosong! Orang itu menggantung

diri karena setelah lima puluh tahun dalam penjara, baru ia sadari segala tindakannya itu

keliru. Bahkan ia yakin hukuman mati belum setimpal dengan dosa-dosanya. Lalu ia

menghukum dirinya sendiri. Memang ada kasus kesalahan menghukum, tetapi itu kasus

lain, jangan digado, ini bukan nasi campur!

Harus dicampur supaya jelas kesalahannya!

Itu memutar balik soal!

Apa boleh buat tidak ada jalan lain!

Kamu Survesiv!


Kejujuran kamu disalahgunakan!

Tolong!

Biar nyahok!

Tolongggggggg!

Mulut yang sudah kacau, pikiran yang sudah terlalu lentur, penghianatan yang sudah

menjadi pandangan hidup harus diberantas! Sekarang juga!

Tolonggggggggggg!!

IA MENCEKIK LEHERNYA SENDIRI LALU MENDORONG SAMPAI NYEROSOT

DARI KURSI LALU BERBARING DENGAN KAKINYA DI ATAS KURSI.

TERDENGAR SUARA GEDORAN BERTUBI-TUBI

Tolonggggggggggg!

GEDORAN BERTUBI-TUBI.

SELESAI

0 komentar:

Posting Komentar